Selat Malaka Sebagai Bagian Dari Peradaban Jalur Sutra Kuno
Selat Malaka Sebagai Bagian Dari Peradaban Jalur Sutra Kuno
Mungkin diantara sebagaian masyarakat masih asing dengan istilah Jalur Sutra, apalagi informasi yang didapatkan sangat terbatas. Pada artikel kali ini penulis akan mengajak pembaca untuk lebih dekat mengenal Jalur Sutra serta kaitannya dengan Selat Malaka. Jalur Sutra merupakan jalur perdagangan kuno yang lahir dari peradaban Tiongkok yang menghubungkan dunia barat dan timur. Jalur Sutra mempertemukan aktifitas perdagangan dari dunia barat dan timur. Kemunculan Jalur Sutra menurut Van Ritchocen ini membentang dari Tiongkok ke Romawi sejauh 6000 kilometer yang dilewati oleh Karavan dan memiliki lintasan bercabang-cabang.
Jalur ini merupakan tonggak awal pertemuan peradaban-peradaban maju pada zaman itu. Jalur Sutra ini meluas hingga wilayah Asia dan Eropa, bukan hanya untuk pertemuan kepentingan ekonomi saja namun juga terdapat pertukaran budaya, agama, dan ilmu pengetahuan. Dalam bidang kebudayaan tentu saja jalur ini memiliki peran penting dalam pengembangan budaya di Asia Selatan, Tiongkok, Timur Tengah dan Eropa. Namun beberapa fakta menyenutkan bahwa Tiongkok tidak aktif mempergunakan Jalur Sutra, justru para pedagang yang berasal dari Persia, Arab dan Asia Tengah yang memanfaatkan jalur tersebut. Aktivitas perdagangan melalui Jalur Sutra menghubungkan bangsa-bangsa di Asia Timur dan Tenggara, wilayah Mediterania, serta Eropa. Jalur Sutra bukan hanya banyak dilalui oleh para saudagar akan tetapi juga banyak dilewati oleh para diplomat dan penjelajah Inggris. Pada jalur ini diramaikan oleh para pedagang dari Seleukia, Antiokia, Alexandria dan Persepolis.
Kalau pembaca berfikir, kenapa dinamakan Jalur Sutra. Karena pada saat itu komoditi terbesar dalam perdagangan Tiongkok adalah Sutra, Sutra sangatlah berharga. Pada awalnya, sutra merupakan komoditas yang hanya dijual untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri saja. Namun, seiring berjalannnya waktu produksi komoditas sutra di Tiongkok semakin banyak sehingga dilakukan perdagangan ke arah barat dengan menggunakan kereta kuda dan unta ketika melewati gurun.
Begitupun dengan Selat Malaka. Sesuai dengan peta dunia bahwa letak Selat Malaka merupakan jalur air yang menghubungkan Samudera Hindia dan Laut Cina Selatan yang membentang antara pulau Sumatera di Indonesia sebelah barat sampai Semenanjung Malaysia dan Thailand bagian Selatan. Selat Malaka memiliki panjang 500 mil (800 kilometer) dan berbentuk corong, dengan lebar hanya 40 mil (65 kilometer) di selatan yang melebar ke utara hingga sekitar 155 mil (250 kilometer). Selat Malaka namanya berasal dari pelabuhan dagang Melaka (sebelumnya Malaka) yang penting di abad ke-16 dan ke-17 di pantai Melayu. Sebagai penghubung antara Samudra Hindia dan Laut China Selatan, Selat Malaka adalah rute laut terpendek antara India dan China. Pada masa-masa awal, Selat Malaka membantu menentukan arah migrasi besar-besaran orang Asia melalui Kepulauan Melayu. Secara berturut-turut Selat Malaka dikuasai oleh orang Arab, Portugis, Belanda, dan Inggris. Singapura. Salah satu pelabuhan terpenting di dunia, terletak di ujung selatan selat.
Dari situs Kemendikbud mengatakan bahwa Selat Malaka merupakan jalur utama yang menghubungkan dunia barat dan timur. Setiap harinya banyak kapal-kapal dagang dari negara lain yang melintas melewati Selat Malaka ini. Sekitar tujuh ratus kapal bergantung kepada Selat Malaka yang terdapat sekitar empat ratus pelabuhan di dalamnya. Salah satu kapal dagang yang melintas di Selat Malaka adalah dari negara Tamil India yang jumlahnya sangat besar. Selain itu juga ramai dari berbagai bangsa lainnya dari Asia dan Eropa. Komoditi terbesar pada jalur Selat Malaka ini adalah rempah-rempah yang sangat dibutuhkan pada saat itu oleh bangsa Eropa untuk bumbu makanan dan khususnya untuk mengawetkan daging pada musim dingin.
Keruntuhan Jalur Sutra Kuno dimulai dari runtuhnya Kekaisaran Tang pada awal abad ke-10. Dengan merosotnya kekuasaan Tang dan kebangkitan Islam antara delapan dan sepuluh abad, kawasan Asia tengah kembali terlepas dari kendali Tiongkok. Penurunan utama di Jalur Sutra dimulai dengan runtuhnya Kekaisaran Mongol karena perseteruan internecine di antara Mongol Khan. Nasionalisme dan Isolasionalisme Tiongkok ditekankan dengan kebangkitan kembali Islam di Barat dan kebangkitan Ming di Tiongkok, oleh karena itu komunikasi jalur darat mengalami kemunduran. Hal ini dikarenakan pengembangan rute laut yang mudah dan menguntungkan, sedangkan rute darat yang panjang dan sulit dipagari. Gejolak internal yang diciptakan oleh jatuhnya pemerintahan kekaisaran pada tahun 1912 dan perang sipil berikutnya di Tiongkok mengganggu perdagangan antara Tiongkok dan negara-negara lain. Setelah pembentukan pemerintahan komunis pada tahun 1948, pengaruh asing di Tiongkok diusir dan negara tersebut memandang ke Soviet Rusia sebagai mitra dagang utamanya. Faktor lainnya adalah, kedatangan Islam di Tiongkok juga faktor utama kemunduran Jalur Sutra. Munculnya Islam di Tiongkok Barat melalui Jalur Sutra adalah peristiwa yang memukau. Menurut catatan-catatan dari Dinasti Tang, ada dua kedutaan yang datang ke istana Tai Tsung yang melaporkan kekalahannya oleh orang-orang Arab, yaitu Yedzgard yang merupakan cucu dari Khosro dan dari kekaisaran Romawi.
Secara garis besar, keruntuhan Jalur Sutra terjadi karena peningkatan perdagangan maritim Eropa dan juga karena kurangnya kontrol politik di sepanjang rute, yang sebelumnya disediakan oleh Kekaisaran Mongolia (1206-1368) di bawah Marco Polo yang telah melakukan perjalanan dari Venesia ke China. Maka, sekitar tahun 1400, Jalur Sutra secara efektif berhenti beroperasi sebagai rute perdagangan sutra.
Slamet Wahyu Tri U.-121811433017

Komentar
Posting Komentar